+

Remember When…, part 1.

“Rio, gak lucu mainnya!” Teriak gadis kecil berparas cantik ini kepada sahabat kecilnya, Rio. Di belakang mereka, Alvin, yang juga sahabat si gadis tertawa. “Al, bantuin dong!” Teriak si gadis lagi, dengan tertawa Alvin membantu si gadis  bangun dari tempat dia terjatuh akibat dorongan Rio.

Si gadis yang kini berumur 15 tahun tersenyum mengingat memori-memorinya bersama dua sahabat kecilnya.

Kenapa semuanya gak bisa semudah 10 tahun lalu? Waktu Rio dan Al masih ada disampingnya. Membuat dia tersenyum di saat dia sedih, saat dia merasa kalau memang dia gak dibutuhkan di dunia, Rio dan Al ngebantu dia ngerasa kalau dia itu worth it. Kalau masih ada banyak orang yang sayang sama dia. Sekarang? Rio dan Al pindah, ninggalin Mercy sendiri ketika Mercy berumur 8 tahun. Tanpa ninggalin kabar, alamat, nomor yang bisa dihubungi, mereka pergi, disaat Mercy sangat butuh support karena kematian ayah dan ibu-nya, mereka pergi. 

“Non… oma non sudah menunggu didepan, non.” kata bu Nurmi yang menemani Mercy sejak kematian orangtuanya.

Mercy tersenyum, “Makasih, bi.”

“Non yang hati-hati ya dirumah oma… kalau non bosan, ini kan masih rumah non, bibi juga masih disini, non…”

Alvin dan Rio, yang sekarang sedang naik daunnya, karena karir menyanyi mereka, gak pernah sehari pun lupain sahabat kecil mereka, Mercy, Alvin dan Rio sudah pernah mencoba menghubungi Mercy dengan nomor rumahnya, tapi hasilnya nol. Nomor itu gak bisa dihubungi, mereka gak tau rumah baru Mercy di mana, karena tahun kemarin mereka datang, rumah lama Mercy kosong. Akhirnya, mereka nyerah. Gak ada gunanya nyari Mercy tanpa info apapun.

Mercy pergi dari rumah lamanya, ke rumah omanya yang ada di Jakarta Pusat, untuk tinggal bersama beliau sampai sekolahnya terselesaikan.

** -rio-

“Al!” gue teriak manggil Alvin. “Al!!!” Gue teriak lagi.

Alvin masuk ke kamar gue, muka kesel. “Apaan, Yo?”

“Mercy… dia dateng buat tinggal sama oma nya.” Gue jelasin ke Alvin.

Alvin ngerutin keningnya, “Jadi…”

“Iya! Kalo lo masih inget alamat rumah omanya Mercy, kita bisa ketemu lagi sama dia!”

Alvin senyum, air mukanya beda dari biasanya. Senyumnya bukan senyum palsu. Serasa semangat yang gak pernah gue liat sehabis kita ninggalin Mercy tuh balik lagi dimuka Alvin. Gue seneng, I mean, gue kangen Mercy, gue tau Alvin juga… tapi dia lebih kangen sama Mercy. Gue sayang Mercy, Alvin lebih… Mercy lebih berarti something buat Alvin dibanding buat gue. Tapi jangan salah, gue sayang sesayang sayangnya orang sayang ke Mercy. Dia tuh kayak perempuan yang paling gue sayang di dunia. Makanya waktu gue sama Alvin ninggalin Mercy buat pergi ke Jakarta, gue ngerasa kayak ada yang kurang dari gue. Gue tau Al juga ngerasa hal yang sama. Karena dari kecil, dimana ada gue dan Al, disitu ada Mercy.

“Rumah omanya Mercy? Yo, udah bertahun-tahun kita gak kesana, lo pikir gue inget?” Muka Alvin berubah jadi suram lagi.

Gue buang nafas panjang, “Lo harus inget, Al… harus.” Gue bilang pelan, hampir putus asa.

Alvin ngegelengin kepalanya, “Give it up, Yo.”

+

skotia:

Red on orange (by occecid)
crues:

(by Yannick J.)
theme by -undead